Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan

Mengenal Ichimoku Kinko Hyo (Part2)

Mengenal Ichimoku Kinko Hyo (Part2)

Strategi Trading

Salam profit bagi trader semua. Pada kesempatan Yang lalu saya telah mengenalkan indicator Ichimoku Kinko Hyo. Dan pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan bagaimana kita menggunakan Ichimoku Kinko Hyo ini sebagai Strategi Trading Kita.

Langsung Masuk Materi Simak Dengan teliti.

Kumo/Cloud

Kumo yang berarti awan dalam bahasa Indonesia, merupakan konsep yang terpenting dan terunik yang perlu dipahami terlebih dahulu. Kumo terbentuk akibat adanya perbedaan antara dua garis Span A (1st span) dan Span B (2nd span). Para trader yang menggunakan Ichimoku sering menggunakan istilah Up Kumo dan Down Kumo untuk menggambarkan posisi awan yang terbentuk pada grafik. Up Kumo terjadi ketika garis Senkou Span A berada di atas garis Senkou Span B. Dan sebaliknya Down Kumo terbentuk ketika garis Senkou SpanA berada di bawah garis Senkou SpanB.

Penggunaan Kumo

Kumo ini digunakan dalan 3 hal, yaitu untuk mengidentifikasi Trend, identifikasih area support dan resistance, dan sebagai indicator volatilitas harga. Kita bahas satu persatu fungsi Kumo.

  1. Trend
Seorang trader dapat dengan mudah mengenali trend dengan cara yang sangat sederhana, yakni dengan membandingkan posisi kumo terhadap harga.
  • Jika Kumo berada dibawah harga, maka trend secara keseluruhan diasumsikan bullish.
  • Jika Kumo bergerak di atas harga maka asumsi keseluruhan tremd adalah bearish.
  • Dan jika harga bergerak diantara area Kumo maka asumsi trend adalah sideways atau bias.

Trend Bearish


Trend Bullish

2. Support dan Resistance

Pedoman yang digunakan untuk dasar penentuan support dan resistance cukup sederhana, hanya dengan menjadikan garis kumo sebagai patokan penentuan support dan resistance.

  • Ketika Uptrend, garis bagian atas kumo akan berperan sebagai support pertama. Sedangkan garis atau batas bawah Kumo berperan sebagai Support Lanjutan
  • Dan sebaliknya, ketika Trend Turun (ketika kumo berada di atas harga) maka bagian terendah dari Kumo akan berfungsi sebagai resistance pertama dan bagian tertingginya sebagai Resistance lanjutan



3. Volatilitas

Jika kita perhatikan Kumo memiliki ketebalan yang berbeda, sesuai dengan pergerakan harga. (ketebalan ini merupakan jarak antara dua garis pembentuk kumo Senkou Span A&B). Semakin tebal kumo, maka semakin tinggi pula volatilitas pergerakan harga. Dan demikina pula sebaliknya.

Hal ini terjadi karena perbedaan periode antara garis Senkou Span A dan B. Tingginya volatilitas harga akan memaksa garis span A menjauh dari span B, dan membentuk ketebalan kumo itu sendiri. Dan sebaliknya jika volatilitas kecil maka span A akan mendekan ke span B dan ketebalan Kumo akan menipis.



Melalui Identifikasi seperti ini, Pengguna Ichimoku Kinko Hyo akan lebih mudah menyimpulkan kapan akan terjadi Reversal atau perubahan Trend.
• Down Trend dimulai setelah harga berhasil menembus area Up Kumo.
• Up Trend dimulai ketika harga berhasil menembus area Down Kumo.




Trimakasih.
Jangan lupa Komentar nya ya.....
dan saran

Read More.....

Belajar Membaca Signal Ichimoku

Salam Profit,

Saat ini saya akan berbagi pengalaman mengenai indikator forex ichimoku. Saya yakin banyak trader sudah pernah mendengar mengenai indikator ini tetapi belum banyak yang menggunakannya sebagai acuan trading forex..

Indikator forex Ichimoku memiliki beberapa parameter, yaitu Tenkan, Kijun, Senkou. (Silahkan set Default-nya saja). Tetapi di grafik tergambar beberapa bagian yaitu Chinkou span, Kijun sen, Tenkan sen, Senkou span A dan B.
Bagaimana cara membaca indikator ichimoku di grafik ? TimeFrame berapa saja yang cocok menggunakan indikator ini ?
Mari kita bahas satu per satu bagian dari indikator forex ini.
Pertama, Chinkou span. Garis ini merupakan harga saat ini (running price) yang digambarkan dalam Line chart (close price) mundur ke belakang sebanyak seting parameter (default 26). Dengan kata lain, nilai chinkou span sama dengan harga running dan digambarkan 26 candle ke belakang.
Cara membacanya adalah jika chinkou span melewati/crossing candle chart dari bawah ke atas sebagai tanda Bullish dan sebaliknya jika chinkou span melewati/crossing candle chart dari atas ke bawah sebagai tanda Bearish (lihat gambar di bawah ini).

Kedua, Tenkan dan Kijun sen. Garis ini merupakan modifikasi dari Exponential Moving Average (EMA) dengan parameter default 9 dan 26. Tidak perlu dipikirkan terlalu jauh bagaimana modifikasinya (terlalu makan waktu). Yang penting cara membacanya yaitu jika Tenkan line melewati/crossing Kijun line dari bawah ke atas menandakan bullish dan sebaliknya jika Tenkan line melewati/crossing Kijun line dari atas ke bawah menandakan bearish. Atau kita juga bisa membacanya sebagai berikut : jika Tenkan line berada di bawah Kijun line maka tren sedang bearish dan sebaliknya.
Ketiga, Senkou span. Senkou span ini ada dua garis, yaitu Senkou span A dan B. Wilayah diantara Senkou tersebut biasa disebut sebagai Ichimoku Cloud. Cara membacanya adalah jika harga berada di atas cloud, trend sedang bullish dan sebaliknya.Dan jika harga berada di dalam cloud artinya trend tidak jelas/sideways.

Beberapa signal indikator forex ichimoku :

Strong Bullish harus memenuhi kriteria : Harga saat ini (running price) berada di atas cloud, Chinkou span di atas cloud, dan Tenkan line melewati Kijun line dari bawah ke atas terjadi di atas cloud.

Medium Bullish harus memenuhi kriteria : Harga saat ini (running price) berada di atas cloud, Chinkou span di atas cloud, dan Tenkan line melewati Kijun line dari bawah ke atas terjadi di dalam cloud.

Weak Bullish harus memenuhi kriteria : Tenkan line melewati Kijun line dari bawah ke atas terjadi di bawah cloud, Harga saat ini (running price) di bawah cloud, tetapi Chinkou span ada di atas.
Signal bearish berlaku kebalikan.

Jelas , ada beberapa kombinasi yang bisa diterapkan dalam membaca indikator forex ichimoku untuk menentukan tren. Untuk sementara baru itu saja yang bisa saya share. Sebenarnya masih ada beberapa tips untuk membaca indikator ichimoku ini yang biasa saya gunakan, tapi I'll save the best for last. ciayo....

Read More.....

Belajar Analisa Market Forex Tanpa Indikator

Rekan - rekan Trader baik yang baru mulai atau pun yang sudah expert. Di sini saya akan mencoba membahas tentang belajar menganalisa Pasar forex. Kali ini saya akan mengambil contoh EUR/USD tanggal 30 Januari 2011.

Kali ini saya tidak akan menggunakan indikator dan hanya memanfaatkan informasi yang di dapat dari Candlestick. Karena Pada dasarnya informasi yang di berikan ole candlestick sudah sangat lengkap.

Langka-langkah ataupun tahapan-tahapan untuk melakukan analisa adalah sebagai berikut.

1. Menggunakan TF H1
2. Menentukan Level Support dan Resistent
3. Menentukan Entry Point dan Stop Loss

Masih Bingung??
Kita Lihat Gambar.



Ket.
1. Bagian Yang dilingkari adalah dasar saya untuk menentukan level Support dan resisten. Harga Hight dan Low adalah level support dan resistent yang cukup akurat.
2. Pada kasus ini Level Support saya gunakan sebagai dasar entry Buy dan Level Resistent saya gunakan sebagai level Take Profit.
3. SL saya gunakan 60 pip dri support2

Skenario.
Jika Harga tembus support1 maka harga akan menuju support2. Pada level Support inilah kemungkinan harga akan kembali naik jika gagal tembus dan break di bawah support.

Jika Harga bisa tembus dan break di bawah support2 kemungkinan EUR akan terjun bebas. dan inilah Fungsi dari SL untuk membatasi kerugian dan penentu harga telah berbalik arah.

Read More.....

Double Top/Botton

Dalam kesempatan kali ini saya akan coba membahas salah satu bentuk pattern yang sudah tidak asing lagi bagi para trader professional. Pattern sendiri adalah pola-pola pergerakan harga dalam suatu transaksi pasar Forex. Ada banyak pola-pola pergerakan harga (pattern) ini yang digunakan oleh para pelaku pasar untuk melakukan posisi jual/beli. Salah satu bentuk pattern ini adalah double top/bottom yang akas saya bahas sekarang ini, semoga bermanfaat bagi para trader Indonesia dan sekitarnya. Amin.

Pola-pola harga memberikan indikasi atau kemungkinan kemana harga akan bergerak ke depannya. Ada pola yang mengindikasikan harga akan berbalik arah (reversal) ada pula pola yang mengindikasikan harga akan melanjutkan trend awalnya. Double top/bottom, merupakan salah satu pattern yang mengindikasikan akan terjadinya pembalikan trend (reversal). Knapa bisa demikian? Dari buku yang saya baca, pada double bottom bisa terjadi karena pergerakan harga yang bergerak ke bawah namun tidak dapat meneruskan penurunannya karena banyak nya pembeli (buyer) yang melakukan aksi beli di harga bawah. Harga kemudian berbalik naik. Namu di atas juga telah di tunggu para penjual (seller) yang melakukan aksi jual dan mengakibatkan harga kembali turun dan mendekati harga terendah sebelumnya dan sekali lagi para buyer masuk ke pasar melakukan aksi beli ketika harga mendekati harga terendah sebelumnya. Dan harga kembali naik. Ini mengindikasikan kekuatan harga untuk kembali turun semakin berkurang. Ini merupakan indikasi harga akan berbalik arah dan rebound.


Kita dapat open posisi buy ketika harga telah break di atas garis trend line dan telah terkonfirmasi dengan telah melewati garis entri poin maka kita bisa amibil posisi buy seperti terlihat di gambar.

Stop loss dapat di tempatkan seperti ada pada gambar atau pundi tempatka di area double bottom. Sedangkan untu take profit dapat di tentukan dengan cara mengukur jarak antara double bottom denga entri poin. Maka itu dapat di jadikan take profit yang aman.

Pola double top pun dapat diperlakukan dengan kondisi sepertihal nya double bottom. Dalam melakukan transaksi dengan menggunakan metode ataupun strategi apapun, jangan lupa untuk memperhatikan seberapa resiko yang dapat kita terima. Karena semua metode hanya sekedar untuk memberikan segala kemungkinan atau probabilitas. Jadi kita harus bisa menerima kemungkinan terburuk yang akan kita peroleh.

Semoga ini bisa menambah pengetahuan dalam bertrading ria.

Read More.....

Trading Ketika Market Sedang Sideway

Sideway :

“Pergerakan harga mata uang yang cenderung berbolak-balik dalam kisaran range tertentu.”

Pada artikel sebelunya pernah di bahas ketika keadaan sedang UpTrend dan DownTrend Menggunakan alat bantu Trend Line. Nah bagai mana jika kondisi market jika dalam keadaan sideway apakah tetap menggunakan garis Trand Line sebagai alat bantu.? Tentu saja tidak! Jika market dalam keadaan Sideways maka biasanya saya menggunakan Support dan Resistance. Sebenernya untuk menghitung Support dan Resistance ada rumusnya. Atau bisa dengan kalkulator Pivot. Tpi saya males menggunakannya. Saya lebih suka dengan melihat pergerakan Candle Stick sebelumnya.

Saya anggap rekan-rekan sudah mengerti apa itu support dan resistance, jadi langsung bagai mana menentukan support dan resistance tanpa harus menghitung menggunakan rumus atau calculator pivot poin.
  • Metode paling simple untuk menentukan level support dan resistance adalah dengan mencari level harga manakah yang paling sering disentuh.
  • Titik tertinggi dan terendah dari harga juga bisa menjadi level support dan resistance, terutama untuk chart periode long term
  • Gap harga yang tidak tertutup juga bisa menjadi level support dan resistance yang cukup bagus.
  • Metode ini bisa digunakan dalam berbagai time frame.
Bingung??? Coba kila lihat gambar.


Dengan melihat gambar di ats maka kita dapat menentukan support dan resistan tanpa harus menghitung
  • Untuk Open Posisi baik Sell/Buy di lakukan ketika cindle sudah menyentuk atau dekat dengan garis Support atau pun Resistance.
  • Utuk posisi Buy Stop Los di letakan di bawah garis Support, dan Take Profit di bawah garis Resistance.
  • Untuk Posisi Sell Stop Loss di letakan di atas garis resistance dan take Profit di atas Support.
  • Tip, Hati2 jika akan dirilisnya News. Biasanya harga akan cepat sekali berubah.
Selesai ….
Semoga Bermanfaat.

"Semoga Ilmu Trading Forex Anda semakin Maju"

Read More.....

Stochastic Oscillator

Stochastic Oscillator merupakan indikator teknikal yang ditemukan oleh George C. Lane, stochastic oscillator sangat populer dan digunakan secara luas oleh trader dan investor dalam hampir seluruh instrumen keuangan dunia. stochastic oscillator dipergunakan untuk membantu menentukan level overbought dan oversold.

Overbought dan oversold memiliki arti bahwa pasar telah bergerak terlalu jauh dan terlalu cepat , sehingga membutuhkan koreksi dalam waktu dekat. Stochastic juga merupakan bagian dari Oscillator yang menggunakan fixed range 0 sampai 100. Dengan area ekstrim berada di area 70 (80) dan 30 (20).

Stochastic Oscillator terdiri dari dua garis:

%K adalah garis yang tercepat, merupakan perbandingan dari harga close dikurang low periode tertentu dan harga high dikurang low periode tertentu. %D adalah garis yang lebih lambat, merupakan average dari %K sepanjang periode tertentu.

Penggunaan Stochastic Oscillator:



  • Standarnya, pembacaan diatas 70 diasumsikan sebagai overbought, dan area 30 adalah area oversold. Namun banyak analis lebih mengatakan area ekstrim 80 dan 20 jauh lebih representatif.
  • Secara teori, Sinyal buy dalam Stochastic Oscillator akan muncul pada saat %K bergerak ke atas memotong %D yang terjadi di bawah area 30 dan keduanya (%K & %D) mengarah keatas.
  • Sinyal sell muncul pada saat %K bergerak ke bawah memotong %D yang terjadi di atas area 70, dan keduanya mengarah kebawah
  • Divergence dan convergence terjadi ketika harga bergerak membentuk highest high atau lowest low tetapi stochastic oscillator tidak pada saat yang sama tidak membentuk highest high atau lowest low. Sinyal ini penggunaannya mirip dengan penggunaan indikator lain seperti MACD dan RSI.


Read More.....

Pivot Point

Pivot Point adalah level harga teknikal yang digunakan untuk menganalisis dan memperkirakan pergerakan harga, yang perhitungannya diperoleh dari rata-rata harga terpenting (high, low dan close) sebuah instrumen dalam periode tertentu.

Unsur dan cara perhitungan Pivot Point

Umumnya unsur terpenting harga yang di jadikan dasar perhitungan pivot point adalah high, low dan close, namun variasi yang muncul akibat berkembangnya penggunaan pivot point memungkinkan penambahan unsur open.

* Open: Harga pembukaan perdagangan sebuah instrumen dalam periode tertentu
* High: Harga perdagangan tertinggi dari sebuah instrumen dalam periode tertentu
* Low: Harga perdagangan terendah dari sebuah instrumen dalam periode tertentu
* Close: Harga penutupan perdagangan sebuah instrumen dalam periode tertentu

Perhitungan Pivot Point

Dasar perhitungan Pivot point diperoleh dari penjumlahan harga high, low dan close kemudian di bagi 3:



Namun selain dengan cara di atas, Pivot point juga dapat diperoleh dari beberapa variasi misalnya dengan menambahkan unsur open sebelumnya kemudian di bagi 4:



Atau menambahkan harga high, low, dan close periode sebelumnya, tambah open periode sekarang kemudian di bagi 4:


Variasi yang lain adalah dengan cara menambahkan bobot yang dianggap penting, misalnya dengan cara lebih menekankan pada penutupan pasar:


Perhitungan support dan resistance dari pivot point dapat diperoleh melalui formula:

* R2 = P + (H - L)
* R1 = P + (P - L)
* S1 = P + (P + H)
* S2 = P - (H + L)

Penggunaan Pivot Point

Penggunaan dasar pivot point sebagai alat prediksi dengan cara menjadikan pivot point sebagai titik awal pergerakan harga, sehingga setiap pergerakan yang melewati level pivot point dapat diasumsikan bullish atau bearish sesuai arah pergerakan harga. Pivot point memberikan dua kegunaan yang berbeda dan penting bagi trader; 1.

Menentukan tren pasar jangka pendek

Metode ini dapat diperoleh dengan cara membandingkan pergerakan harga dengan pivot point. Jika harga bergerak ke atas dan berhasil melampaui pivot point, maka tren dapat dianggap bullish dan sebaliknya, jika harga bergerak ke bawah dan berhasil melewati pivot point, maka trend dapat dikatakan bearish. Hal yang perlu diingat dalam proses identifikasi tren melalui pivot adalah asumsi tren hanya dapat dipegang dalam jangka waktu tertentu saja, sesuai dengan periode atau time frame grafik yang digunakan. Jika pivot point diambil dari grafik daily, maka perhitungan pivot baru akan diperoleh pada saat penutupan pasar, sehingga pivot sebelumnya sudah tidak lagi berlaku.

2. Menentukan level Entri dan exit

Selain untuk menganalisis tren, terlampuinya level pivot dapat digunakan sebagai level entri dan exit. Umumnya level-level tersebut diperoleh melalui penggunaan support dan resistance pivot point.

Sebagai contoh misalnya seorang trader yang berorientasi trend following dapat menempatkan order posisi beli beberapa tick di atas level resistance (buy stop) dan menempatkan stoploss beberapa tick di bawah level support, atau sebaliknya menempatkan posisi jual beberapa tick di bawah level support (sell stop) dan stoploss beberapa tick di atas resistance.

Contoh Penggunaan Pivot Point


Seorang trader lain juga dapat menggunakan metode yang berbeda, dengan menempatkan posisi jual beberapa tick di bawah resistance penting (sell limit), dan menempat stoploss beberapa tick di atas resistance. Atau juga sebaliknya, menempatkan posisi beli beberapa tick di atas level support (buy limt), dan menempatkan stoploss beberapa tick di bawah support.

Read More.....

Trend Line

“Trade with the tren…the trend is your friend”

Trend Up

“Pergerakan harga mata uang yang cenderung mengarah ke atas, yang direpresentasikan oleh higer low dan higher high pada chart”. Mari Lihat Gambar di bawah.

Gb.1 Up Trend

Trend Down

“Pergerakan harga mata uang yang cenderung mengarah ke bawah, yang direpresentasikan oleh lower low dan lower high pada chart”. Mari Lihat Gambar di bawah.

Gb.2 Down Trend

Begitulah bentuk grafik yang terjadi. Kalau bukan Trend Up dan Trend Down. Lalu Bagaimana cara kita biar profit? Sebenernya gampang kalau mau profit, sebagai pemain kecil kita cukup mengikuti Trend yang sedang terjadi. Trend Up ya kita melakukan Buy jangan malah melawan arus dengan mengambil posisi Sell (Kecuali memanfaatkan koreksi harga), karena sama halnya dengan bunuh diri. Begitu pula sebaliknya Jika Tren Down ambil posisi Sell.
Sabar Kita Bahas Satu Persatu.

Sebelum melanjutkan ada hal yang perlu saya sampaikan. Mungkin rekan-rekan trader juga susah pada tau, tpi tidak ada salahnya saya ulas sedikit. Jika ada yang salah mohon di benarkan. Masih Belajar juga ni.
  • “History repeats itself”. Sejarah akan Berulang. Tetapi tidak berarti kita bisa menempatkan posisi Buy atau Sell di level berapapun, karena akan berulang di mana harganya akan kembali lagi. Jadi maksutnya adalah bahwa harga biasanya mengulangi pola pergerakan yang cenderung mirip dari waktu ke waktu, sehingga polanya bisa dipelajari. Sehingga penekanannya bukan pada angka, melainkan pola pergerakan yang sering disebut sebagai “pattern”. Dari pattern ini kita kemudian bisa memprediksi pergerakan harga selanjutnya. Sebenarnya ada beberapa bentuk chart pattern yang memiliki peluang besar untuk memprediksi arah pergerakan harga ke depan. Untuk yang laen besok besok aja ya. Kita bahas yang ini dulu, udah ada yang tidak sabar. Hehehehehehe
Langsung aja kita mulai bahas satu per satu. Untuk kondisi UpTrend dan DownTrend kita jadikan satu aja karena menggunakan indicator yang sama yaitu Trend Line. Meski di postingan terdahulu sudah ad yang membahas tentang penggunaan trend line untuk itu saya bahas singkat saja.

Apa Itu Trend Line:
  • Trend Line adalah sebuah garis lurus diagonal yang menghubungkan dua atau lebih level harga
  • Trend line digunakan untuk mengidentifikasi dan mengkonfirmasi trend harga yang tengah terjadi
  • Trend Line merupakan salah satu alat analisa technical yang paling sering digunakan karena cukup akurat (aku juga pake)
  • Kunci analisanya adalah apa yang akan terjadi jika pergerakan market sudah mendekati Tren Line.
  • Tren line akan menjadi sebuah tahanan jika harga yang bergerak mendekatinya akan membalik kembali melanjutkan trend awalnya.
  • Breaking melewati trend line merupakan sinyal penting bahwa sebuah tren mungkin akan berakhir atau sebuah permulaan trend lainya.
  • Untuk menyatakan sebuah tren line sudah tidak valit lagi, jika harga sudah menembus garis tren line dengan gerakan yang besar.
  • Langsung Lihat Gambar aja ya.
Up Trend

Gb. Trend Line Up Trend

  • Untuk kondisi Up Trend taruhlah garis Trend Line di bawa Chart dengan menentukan 2 atau lebih titik harga terendah nya.
  • Untuk Open posisi di sarankan untuk mengambil posisi Buy ketika harga dekat dengan garis Trend Line.
  • Dan pasang lah Stop Los di bawah Garis Trend Line, Sehingga jika harga menyentuh SL maka market sedang berubah trend atau membuat tren baru.
  • Garis Trend Line berfunsi sebagai support


Down Trend

Gb.4 Trend Line Down Trend

  • Kebalikan Dari kondisi Up Trend. Garis Trend line berada di ats Chart.
  • Open posisi di di sarankan mengambil posisi Sell Ketika harga dekat dengan garis trend line.
  • Stop Los di letakan di atas garis Trend Line
  • Garis Trend Line berfungsi sebagai Resistance
Demikian lah cara yang biasa saya lakukan jika sedang menghadapi market yang sedang mengalami Trending. Saya selalu mengikuti arah trend yang sedang terjadi bukan melawannya, karena saya sadar saya hanyalah pemain kecil yang tidak bisa mempengaruhi pergerakan market.

Read More.....

Fibonacci Retracemen

FIbonacci Number adalah angka urutan matematis yang diperoleh dari penjumlahan 2 angka pendahulunya (contoh:1,1,2,3,5,8,13,21,34,55,89,144..dst). Ditemukan kembali oleh Leonardo Da Pisa atau Fibonacci (Son of Bonacci) pada abad ke 13.

Pembagian angka dengan sebelumnya akan menghasilkan kisaran 1.618, terutama setelah urutan angka 55 (89/55=1.61818). Dan pembagian angka kedepan akan menghasilkan kisaran 0.618 (55/89=0.618). Angka ini yang kemudian disebut sebagai the golden ratio atau phi.

Penggunaan awal angka-angka Fibonacci dalam dunia trading dikenal melalui teori Elliott Wave dan W.D. Gann, namun belakangan penggunaannya telah meluas sehingga metode trading yang murni berdasarkan Fibonacci Numbers banyak bermunculan.

Umumnya Metode trading tersebut berdasarkan pada dua hal; Koreksi dan Proyeksi. Namun kali ini yang akan saya bahas hanya tentang penggunaan Fibonacci sebagai koreksi saja. Langsung saja yaaaa..

Koreksi (retracement) Pergerakan koreksi biasanya akan berada pada level:
  1. 0.382
  2. 0.50
  3. 0.618
Itulah level-level ketika harga mengalami koreksi. Namun jika harga dapat menembus level 0.618 maka dapat di katakana trend telah berbalik atau tren telah berhenti, atau pun akan membentuk trend baru.

Mari kita aplikasikan indicator Fibonacci retracement ke sebuah chart

Kita akan mengambil contoh ketika down trend atau harga dalam keadaan turun.

  • Sebelum kita menarik garis fibo kita harus menentukan high & low nya terlebih dahulu. Lihat pada gambar.


  • Setelah Kita menentukan high & low nya kita tarik garis fibo dari high ke low. (untuk up trend tarik garis fibo dari Low ke high) lihat gambar:


Koreksi (retracement) Pergerakan koreksi biasanya akan berada pada level:
  1. 0.382
  2. 0.50
  3. 0.618
Nah pada level-level itulah kita akan open posisi sell. Level-level itu dapat di pakai sebagai resistance dan level 0.618 sebagai resistance kuat. Dan apa bila harga bergerak jauh melewati 0.618 maka fibonanci ini sudah tidak falid lagi.

Nah itu yang biasa saya lakukan dengan garis fibo. Silahkan di eksplor sendiri ya. saya Cuma member bagai mana membaca dan menggunakan garis fibo ini. Semoga bermanfaat.

Read More.....

Parabolic SAR

Pada tahun 1978 Dalam bukunya “New Concepts in Technical Trading”, J Welles Wilder memperkenalkan Parabolic SAR (biasa disingkat penyebutannya hanya dengan SAR saja) bersama dengan RSI sebagai salah satu indikator utama dalam bertrading. SAR sendiri merupakan kependekan dari Stop And Reverse yang kurang lebih diartikan sebagai indikator penentu titik Stop Loss dalam trading. Dalam perkembangannya dikemudian hari, Parabolic SAR menjadi salah satu indikator efektif dalam menentukan kondisi market yang sedang trend (trending market) bersama dengan fasilitas yang bernama Trailing Distance yang banyak disediakan pada berbagai platform forex trading

Titik SAR selalu berada di arah yang berlawanan dengan pergerakan harga, jika harga sedang dalam trend naik, maka titik SAR akan berada di bawah dan sebaliknya jika harga bergerak turun maka titik SAR akan berada di atas Chart. Kegunaan dari Parabolic SAR sama persis dengan Moving Average atau trend indicator lainnya. Hanya saja Indicator Parabolic SAR diciptakan untuk mengeliminir kekurangan dari indicator MA yaitu sifatnya yang membentuk kurva sehingga sering terjadi mis interpretasi. Dengan Parabolic SAR yang berupa titik, trend naik atau turun menjadi terlihat kelihatan lebih pasti dan tidak lagi menimbulkan salah tafsir.

Pada SAR, ketika harga sedang naik, maka titik SAR berada di bawah dari pergerakan harga. Dan sebaliknya ketika harga sedang turun maka titik SAR berada di atas dari pergerakan harga. Perhatikan Kedua gambar di bawah ini.


Gb.1 Harga Naik


Gb.2 Harga Turun

Sekarang Kita Menentukan kapan kita akan melakukan open posisi. Nah untuk itu akan saya bagi menjadi dua kondisi yaitu ketika harga naik (Buy) dan ketika harga turun (Sell). Untuk keadaan sideways saya sarankan jangan menggunakan teknik ini.

Ketika Harga Naik



Ketika harga bergerak naik Maka titik SAR akan berada di bawah Candle Stick. Di situlah kita akan melakukan Open Posisi Buy. Saran saya ketika Trend naik jangan mencoba melawan trend yang sedang terjadi dengan mengambil posisi Sell di khawatirkan harga akan kembali ke trend semula dank an membuat kita Loss Besar jika tidak memasang StopLoss.

  • Ambil posisi Buy ketika titik SAR telah muncul, dan gunakanlah indicator lain untuk mengkonfirmasi sinyal tersebut. Kalau aku sih menggunakan Stochastic untuk mengkonfirmasi sinyal dari SAR. Jadi caranya seperti ini, Jika titk sar telah muncul di bawah chart dan indicator stochastic telah bersilangan dan mengarah keatas maka kita dapat mengambil posisi Buy.
  • Parabolic SAR juga memiliki keistimewaan lain yaitu titik SAR tersebut dapat di jadikan area untuk memasang StopLoss. Jadi StopLoss di pasang di titik SAR pertama. Dan kita bisa menaikan stop los ketika harga terus naik untuk melindungi Profit. Atau kita bsa menggunakan trailing Stop.
Ketika Harga Turun



Ketika harga mulai turun maka titik SAR akan berada di atas Candle Stick. Di situlah kita akan melakukan Open Posisi Sell. Saran saya ketika Trend Turun jangan mencoba melawan trend yang sedang terjadi dengan mengambil posisi Buy, di khawatirkan harga akan kembali ke trend semula dank an membuat kita Loss Besar jika tidak memasang StopLoss.

  • Ambil posisi Sell ketika titik SAR telah muncul, dan gunakanlah indicator lain untuk mengkonfirmasi sinyal tersebut. Kalau aku sih menggunakan Stochastic untuk mengkonfirmasi sinyal dari SAR. Jadi caranya seperti ini, Jika titk sar telah muncul di atas chart dan indicator stochastic telah bersilangan dan mengarah kebawah maka kita dapat mengambil posisi Sell.
  • Parabolic SAR juga memiliki keistimewaan lain yaitu titik SAR tersebut dapat di jadikan area untuk memasang StopLoss. Jadi StopLoss di pasang di titik SAR pertama. Dan kita bisa menurunkan area stop los ketika harga terus turun untuk melindungi Profit. Atau kita bsa menggunakan trailing Stop.

Read More.....